ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah
Vol. x, No. x, Tahun 2025
e-ISSN : 2798-5733| p-ISSN : 2798-5741
Pendidikan pada dasarnya sebuah usaha sadar untuk meningkatkan pengetahuan, bakat, minat dan keterampilan secara optrimal. Pendidikan merupakan sarana utama dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia, tanpa pendidikan akan sulit mencapai hasil dari kualitas sumber daya manusia yang maksimal (Hasbullah,2006). Hal tersebut tak heran bahwa pendidikan menjadi perhatian utama bagi setiap negara-negara di dunia. Demikian juga senada dengan pesan Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Pemerintah Republik Indonesia (2003). Dengan demikian proses pendidikan dimaksudkan untuk terciptanya suasana belajar yang mampu memberikan kualitas terhadap peserta didik sehingga mampu mengoptimalkan segala kemampuannya secara maksimal. Namun pada kenyataanya proses efektivitas pendidikan memiliki beberapa kendala seperti pendekatan, media dan metode yang digunakan oleh pengajar ditambah lagi globalisasi telah terjadi dimasa kini yang memberikan dampak terhadap segala aspek tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Untuk itu semua elemen-elemen dalam dunia pendidikan harus memberikan perubahan secara intensif. Dari para pembuat kebijakan, guru, murid, kurikulum, semuanya memiliki peran penting (Nurdyansyah, 2017). Dalam efektivitas proses Pendidikan, metode memiliki peran penting terhadap keberhasilan mencapai tujuan Pendidikan, metode yang variatif, menarik dan sesuai dengan materi yang akan disampaikan merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam proses Pendidikan (Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny dan Nur Hamzah, 2019). Sebuah proses pembelajaran selain mementingkan pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai, mestinya memberikan kesenangan, dorongan dan tidak membosankan dalam proses pembelajaran, hal tersebut menjadi tugas yang cukup berat bagi para pendidik. Sebuah rangsangan atau dorongan siswa dalam belajar mampu memberikan pengetahuan yang aktif dan terus berkembang. Menurut Piaget pengetahuan itu akan bermakna apabila dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa, mulai dari sejak kecil, setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya (Wina Sanjaya, 2010).
Terdapat sebuah fenomena yang tidak bisa diabaikan oleh setiap pendidik, dimana banyak peserta didik yang merasa sekolah adalah tempat yang paling membosankan, tidak bisa menimbulkan semangat belajar. Bahkan terdapat peserta didik yang berpikir “mengapa libur sekolah sekali seminggu kenapa tidak sebaliknya”, banyak peserta didik yang lebih senang jika pendidik berhalangan hadir atau Free Class. Fenomena tersebut tidak luput dari kegiatan pembelajaran yang kurang efektif, boleh jadi peserta didik hanya diposisikan sekedar objek yang dijejali berbagai materi sehingga merasa tidak nyaman di kelas.
Jika pendidik menginginkan tujuan pendidikan tercapai secara efesien dan efektif, maka penguasaan materi saja tidaklah cukup, pendidik harus menguasai berbagai teknik atau metode penyampaian yang tepat dalam proses pembelajaran. Pembelajaran harus memberikan dorongan peserta didik untuk merasa ingin mengetahui, menyenangkan, aktif dan menggunakan metode-metode yang bervariasi. semua unsur sekolah termasuk metode yang digunakan sangat penting dalam mendukung tercapainya efektivitas pembelajaran. hal tersebut diharapkan, maka kompetensi pembelajaran akan tercapai.
Namun terdapat penelitian yang menunjukan bahwa masih banyak pendidik yang menggunakan satu atau dua metode bahkan ada yang menggunakan ceramah saja, sehingga pembelajaran menjadi membosankan. Hal ini diperkuat oleh penelitian Yanti Oktavia di SDS 027 Tanjung Simpang Yayasan Mutiara Gambut, terlihat bahwa kualitas mengajar guru masih kurang baik. Guru sering kali hanya menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran dan jarang menggunakan media penunjang dalam pembelajaran (Oktavia, 2014).
Untuk mendorong keaktifan peserta didik terhadap efektivitas pembelajaran yang diberikan oleh guru dalam proses belajar mengajar yaitu menggunakan berbagai metode, salah satunya adalah Crossword Puzzle. Dengan adanya metode tersebut apa yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik dapat memberikan pembelajaran yang dapat mengasah daya ingat, mengembangkan daya analisa, lebih menarik, mengundang minat, merangsang kreativitas, dan mengaktifkan partisipasi peserta didik (Susiana, Elis).
Selengkapnya klik : ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. x, No. x, Tahun 2025